BTQ “Kisah Nabi Shaleh”
Kata Pengantar
Alhamdulillahirobil’alamin,
puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunianya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah “Kisah Nabi Shaleh” ini tepat waktu. Makalah
ini tidak akan selesai tanpa adanya kerja sama antar anggota kelompok.
Shalawat serta salam
senantiasa tercurahkan pada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing
umat manusia dari zaman kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni
agama Islam.
Kami menyadari bahwa makalah
ini belum sempurna. Untuk itu, kritik dan saran bagi kesempurnaan makalah ini
sangat kami harapkan, serta kami mengharapkan agar makalah ini dapat berguna
dan bermanfaat bagi kita semua.
Sidoarjo, 19 September 2013
Tim
penyusun
KISAH NABI SALEH A.S
Nabi Saleh AS, merupakan putra dari 'Ubaidahbin Tsamud
bin 'Amir bin Iram bin Sam bin Nuh AS. Nama aslinya adalah Shalih bin Ubaid. Nabi Saleh merupakan keturunan ke
6 dari Nabi Nuh as. Kisah Nabi Saleh diceritakan oleh 72
ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah
" Hud " ayat 61 sampai ayat 68 dan surah “Al-Qamar” ayat 23 sampai
ayat 32.
Beliau diutus
oleh Allah sebagai seorang nabi. Pada saat itu beliau berada di Daerah al-Hijr
(Mada'in Salih, antara Madinah dan Syria). Beliau wafat di usia 70 tahun. Nabi
Saleh wafat di Mekah
al-Mukarramah.
Nama kaum Nabi Saleh adalah “Kaum Tsamud”. Nabi Shaleh as dikirim Tuhan untuk
mengingatkan Kaum Tsamut yang terjerat kesesatan. Mereka
bertempat tinggal di suatu dataran bernama " Alhijir " terletak
antara Hijaz dan Syam yang dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku Aad
yang telah habis binasa disapu angin taufan.
Kemakmuran
dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh
kaum Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud.Tanah-tanah yang subur yang memberikan
hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan lemak yang berkembang biak,
kebun-kebun bunga yag indah-indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas
tanah yang datar dan dipahatnya dari gunung.Semuanya itu menjadikan mereka
hidup tenteram ,sejahtera dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan alamiah
dan bahwa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan
mereka.
Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan
Mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puji, kepadanya mereka
berqurban, tempat mereka minta perlindungan dari segala bala dan musibah dan
mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan. Allah Yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba_Nya berada dalam kegelapan
terus-menerus tanpa diutusnya nabi pesuruh disisi-Nya untuk memberi penerangan
dan memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Oleh
karena itu Nabi Saleh diutus Allah untuk memimpin kaum tsamud.
“Dan kepada Tsamud
(kami utus) saudara mereka shaleh. Nabi Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah
Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan
kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena itu
mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku
Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.” (QS. Hud:61).
[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.” (QS. Hud:61).
Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan siksaan
kepada suatu umat sebelum mereka diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya
dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya.
Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah
diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mereka sendiri,
dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas,
cerdik pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan. Nabi Shaleh
memperkenalkan kepada Tuhan yang sepatut mereka sembah, Tuhan Allah Yang Maha
Esa, yang telah mencipta mereka, menciptakan alam sekitar mereka, menciptakan
tanah-tanah yang subur yang menghasilkan bahan keperluan hidup mereka, mencipta
binatang-binatang yang memberi manfaat dan berguna bagi mereka dan dengan
demikian memberi kepada mereka kenikmatan dan kemewahan hidup dan kebahagiaan
lahir dan batin.
Tuhan Yang Esa itulah yang harus mereka sembah dan
bukan patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu gunung yang tidak
berkuasa memberi sesuatu kepada mereka atau melindungi mereka dari ketakutan
dan bahaya. Nabi Shaleh memperingatkan mereka bahwa ia adalah seorang daripada
mereka , terjalin antara dirinya dan mereka ikatan keluarga dan darah. Mereka
adalah kaumnya dan sanak keluarganya dan dia adalah seketurunan dan sesuku
dengan mereka.Ia mengharapkan kebaikan dan kebajikan bagi mereka dan sesekali
tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam hal-hal yang akan membawa kerugian,
kesengsaraan dan kebinasaan bagi mereka.
Ia menerangkan kepada mereka bahwa ianya adalah
pesuruh dan utusan Allah, dan apa yang diajarkan dan didakwahkan kepada mereka
adalah amanat Allah yang harus dia sampaikan kepada mereka untuk kebaikan
mereka semasa hidup mereka dan sesudah mereka mati di akhirat kelak. Ia
mengharapkan kaumnya mempertimbangkan dan memikirkan sungguh-sungguh apa yang
ia serukan dan anjurkan dan agar mereka segera meninggalkan persembahan kepada
berhala-berhala itu dan percaya beriman kepada Allah Yang Maha Esa seraya
bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya atas dosa dan perbuatan syirik yang selama
ini telah mereka lakukan.Allah maha dekat kepada mereka mendengarkan doa mereka
dan memberi ampun kepada yang salah bila dimintanya.
Terperanjatlah
kaum Shaleh mendengar seruan dan dakwahnya yang bagi mereka merupakan hal yang
baru yang tidak diduga akan datang dari saudara atau anak mereka sendiri.Maka
serentak ditolaklah ajakan Nabi Shaleh itu seraya berkata mereka
kepadanya:”Wahai Shaleh ! Kami mengenalmu seorang yang pandai, tangkas dan
cerdas, fikiranmu tajam dan pendapat serta semua pertimbangan mu selalu tepat.
Pada dirimu kami melihat tanda-tanda kebajikan dan sifat-sifat yang terpuji.
Kami mengharapkan dari engkau sebetulnya untuk
memimpin kami menyelesaikan hal-hal yang rumit yang kami hadapi, memberi
petunjuk dalam soal-soal yang gelap bagi kami dan menjadi ikutan dan
kepercayaan kami di kala kami menghadapi krisis dan kesusahan.Akan tetapi
segala harapan itu menjadi meleset dan kepercayaan kami kepadamu tergelincir
hari ini dengan tingkah lakumu dan tindak tandukmu yang menyalahi adat-istiadat
dan tatacara hidup kami.”
Ajakan kebenaran dari Nabi Shaleh as
dianggap angin, lalu masuk telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Seruan
Nabi Shaleh as dianggap sepi, ia dianggap telah kehilangan akal budi akibat
terkena sihir. Mereka malah menantang Shaleh agar memberi bukti bahwa dia
benar-benar seorang Nabi. Mereka berkata kepada Nabi Shaleh as, “Jika engkau
seorang Nabi datangkan suatu mukjizat kepada kami”.
Mendapat
tantangan ini, maka atas berkat rahmat ilahi Shaleh mendatangkan seokor unta
betina dari tengah-tengah gurun pasir secara ajaib. Unta itu sangat besar,
bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan unta yang ada di sekelilingnya.
Nabi
Saleh sadar bahwa tantangan kaumnya yang menuntut bukti berupa mukjizat itu adalah bertujuan hendak
menghilangkan pengaruhnya dan mengikis habis kewibawaannya di mata kaumnya
terutama para pengikutnya bila ia gagal memenuhi tantangan dan tuntutan mereka.
Nabi Saleh membalas tantangan mereka dengan menuntut janji bila ia berhasil
mendatangkan mukjizat yang mereka minta, mereka akan meninggalkan agama dan
persembahan mereka dan akan mengikuti Nabi Saleh menuju jalan yang lurus.
Sesuai
dengan permintaan dan petunjuk pemuka-pemuka kaum Tsamud berdoalah Nabi Saleh
memohon kepada Allah agar memberinya suatu mukjizat untuk membuktikan kebenaran
risalahnya dan sekaligus mematahkan perlawanan dan tantangan kaumnya yang masih
keras kepala itu. Ia memohon kepada Allah, dengan kekuasaan-Nya menciptakan
seekor unta betina yang dikeluarkan dari perut sebuah batu karang besar yang
terdapat di sisi sebuah bukit yang mereka tunjuk. Maka sejurus kemudian dengan
izin Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta terbelahlah batu karang yang
ditunjuk itu dan keluar dari perutnya seekor unta betina.
Dengan
menunjuk kepada binatang yang baru keluar dari perut batu besar itu berkatalah
Nabi Saleh kepada mereka:" Inilah dia unta Allah, janganlah kamu ganggu
dan biarkanlah ia mencari makanannya sendiri di atas bumi Allah, ia mempunyai
giliran untuk mendapatkan air minum dan kamu mempunyai giliran untuk mendapatkan
minum bagimu dan bagi ternakanmu juga dan ketahuilah bahwa Allah akan
menurunkan azab-Nya bila kamu sampai mengganggu binatang ini."
Kemudian
berkeliaranlah unta lain di ladang-ladang memakan rumput sesuka hatinya tanpa
mendapat gangguan. Namun ketika unta itu akan minum unta itu malah pergi
ke sebuah perigi yang diberi nama perigi unta dan minumlah sepuas
hatinya. Dan pada hari-hari giliran unta Nabi Saleh itu datang minum tiada
seekor binatang lain berani menghampirinya, hal mana menimbulkan rasa tidak
senang pada pemilik-pemilik binatang itu yang makin hari makin merasakan bahwa
adanya unta Nabi Saleh di tengah-tengah mereka itu merupakan gangguan laksana
duri yang melintang di dalam kerongkong.
Dengan
keberhasilan Nabi Saleh dalam memenuhi tuntutan dari kaum tsamud, para pemuka
kaum tsamud malah berencana untuk menjatuhkan kehormatan dan menghilangkan
pengaruh Nabi Saleh kepada sebagian kaum tsamud lainnya.
Persekongkolan
diadakan oleh pemuka dari kaum Tsamud untuk mengatur rancangan pembunuhan unta
Nabi Saleh. Dan selagi orang masih dibayangi oleh rasa takut dari azab yang
diancam oleh Nabi Saleh bila untanya diganggu di samping adanya dorongan
keinginan yang kuat untuk melenyapkan binatang itu dari atas bumi mereka,
tiba-tiba munculah seorang janda
bangsawan yang kaya raya menawarkan akan menyerahkan dirinya kepada siapa yang
dapat membunuh unta Nabi Saleh. Di samping janda itu, ada seorang wanita lain
yang mempunyai beberapa puteri cantik-cantik menawarkan akan menghadiahkan
salah seorang dari puteri-puterinya kepada orang yang berhasil membunuh unta
itu.
Dua
macam hadiah yang menggiurkan dari kedua wanita itu membuat para pemuka Tsamud mengundang dua orang lelaki
bernama Mushadda' bin Muharrij dan Gudar bin Salif . Dengan bantuan tujuh orang lelaki lagi
bersembunyilah kumpulan itu di suatu tempat di mana biasanya di lalui oleh unta
dalam perjalanannya ke perigi tempat ianya minum. Dan begitu unta yang tidak
berdosa itu lewat segeralah dipanah betisnya
oleh Musadda' dan disusul oleh Gudar dengan menikamkan pedangnya di perutnya.
Dengan
perasaan megah dan bangga pergilah para pembunuh unta itu ke ibu kota
menyampaikan berita matinya unta Nabi Saleh yang mendapat sambutan sorak-sorai
dan teriakan gembira dari pihak musyrikin seakan-akan mereka kembali dari medan
perang dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang. Mereka berkata kepada
Nabi Saleh:" Wahai Saleh! Untamu telah mati dibunuh, cobalah datangkan apa yang engkau katakan dulu tentang ancaman bila unta itu diganggu, jika engkau
betul-betul termasuk orang-orang yang terlalu benar dalam kata-katanya."
Nabi
Saleh menjawab:" Aku telah peringatkan kamu, bahwa Allah akan menurunkan
azab-Nya atas kamu jika kamu mengganggu unta itu. Maka dengan terbunuhnya unta
itu engkau akan mengalami masa azab yang
Allah talah janjikan dan telah aku sampaikan kepada kamu. Kamu telah menentang
Allah dan terimalah kelak akibat tentanganmu kepada-Nya. Janji Allah tidak akan
meleset. Kamu boleh bersuka ria dan bersenang-senang selama tiga hari ini
kemudian terimalah ganjaranmu yang setimpal pada hari keempat. Demikianlah
kehendak Allah dan taqdir-Nya yang tidak dapat ditunda atau dihalang."
Ada
kemungkinan menurut sementara ahli tafsir bahwa Allah melalui rasul-Nya Nabi
Saleh memberi waktu tiga hari itu untuk memberi kesempatan, kalau mereka sadar
akan dosanya dan bertaubat minta ampun serta beriman kepada Nabi Saleh dan juga
risalahnya.
Akan
tetapi dalam kenyataannya tempoh tiga hari itu bahkan menjadi bahan ejekan
kepada Nabi Saleh yang ditentangnya untuk mempercepat datangnya azab itu dan
tidak usah ditangguhkan Tiga hari lagi.
Nabi
Saleh memberitahu kaumnya bahwa azab Allah yang akan menimpa mereka akan
didahului dengan tanda-tanda, yaitu pada hari pertama bila mereka terbangun
dari tidurnya akan menemui wajah mereka menjadi kuning dan berubah menjadi
merah pada hari kedua dan hitam pada hari ketiga dan pada hari keempat turunlah
azab Allah yang pedih.
Mendengar
ancaman azab yang diberitahukan oleh
Nabi Saleh kepada kaumnya kelompok sembilan orang ialah kelompok pembunuh unta
merancang pembunuhan atas diri Nabu Saleh mendahului tibanya azab yang
diancamkan itu.
Mereka
mengadakan pertemuan rahasia dan bersumpah bersama akan melaksanakan rancangan
pembunuhan itu di waktu malam, di saat orang masih tidur nyenyak untuk menghindari
tuntutan balas darah oleh keluarga Nabi Saleh. Rancangan mereka ini dirahsiakan
sehingga tidak diketahui dan didengar oleh siapa pun kecuali kesembilan orang
itu sendiri.
Ketika
mereka datang ke tempat Nabi Saleh untuk melaksanakan rancangan jahatnya di
malam yang gelap-gulita dan sunyi-senyap berjatuhanlah di atas kepala mereka
batu-batu besar yang tidak diketahui dari arah mana datangnya dan yang seketika
merebahkan mereka di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Demikianlah
Allah telah melindungi rasul-Nya dari perbuatan jahat hamba-hamba-Nya yang
kafir. Satu hari sebelum hari turunnya azab yang telah ditentukan itu, dengan
izin Allah berangkatlah Nabi Saleh bersama para mukminin pengikutnya menuju
Ramlah, sebuah tempat di Palestina, meninggalkan Hijir dan penghuninya, kaum
Tsamud habis binasa, ditimpa halilintar yang dahsyat beriringan dengan gempa
bumi yang mengerikan.
Pengajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Saleh ini ialah
bahwa dosa dan perbuatan mungkar yang dilakukan oleh sekelompok kecil warga
masyarakat dapat berakibat negatif yang membinasakan masyarakat itu seluruhnya.
Lihatlah betapa kaum
Tsamud menjadi binasa, hancur dan bahkan tersapu bersih dari atas bumi karena
dosa dan pelanggaran perintah Allah yang dilakukan oleh beberapa gelintir orang
pembunuh unta Nabi Saleh A.S.
Di sinilah letaknya
hikmah perintah Allah agar kita melakukan amar makruf nahi mungkar. Karena
dengan melakukan tugas amar makruf nahi mungkar yang menjadi fardu kifayah itu,
setidak-tidaknya kalau tidak berhasil
mencegah kemungkaran yang terjadi di dalam masyarakat dan lindungan kita, kita
telah membebaskan diri dari dosa menyetujui atau merestui perbuatan mungkar
itu.
Bersikap pasif acuh tak
acuh terhadap maksiat dan kemungkaran yang berlaku di depan mata dapat diartikan
sebagai persetujuan dan penyekutuan terhadap perbuatan mungkar itu.
sedikit komentar dari saya, masukkan referensi ..!
BalasHapus