Selasa, 28 Oktober 2014

MAKALAH LUMPUR LAPINDO

LUMPUR LAPINDO SIDOARJO

PENDAHULUANLatar belakang MasalahBanjir lumpur panas atau yang lebih dikenal sebagai bencana lumpur lapindo telah terjadi di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada tanggal 29 Mei. Bencana lumpur lapindo adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc.Sampai saat ini bencana lumpur lapindo masih terus berlangsung. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), pada 2007 area terdampak lumpur Lapindo meliputi 12 desa di tiga kecamatan seluas 640 hektar. Saat ini wilayah itu sudah berubah menjadi kolam lumpur. Pada 2008, luas area terdampak bertambah menjadi 728 hektar.Pada 2011, luasnya bertambah dengan dimasukkannya wilayah 9 rukun tetangga baru dalam peta area terdampak. Dan pada awal 2012, ada 65 RT baru masuk peta area terdampak.
Sehingga selama enam tahun semburan lumpur Lapindo terjadi, ada sebanyak 11.881 keluarga yang rumah ataupun tanahnya berada di area terdampak.Dengan demikian dapat dilihat bahwa bencana lumpur lapindo ini telah memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat, bukan hanya masyarakat sekitar lokasi terjadinya bencana lumpur lapindo namun juga bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.

 Rumusan MasalahAdapun di dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menemukan beberapa masalah, yaitu:

  1. Apa yang menjadi penyebab terjadinya bencana lumpur lapindo?
  1. Apa dampak yang diakibatkan oleh bencana lumpur lapindo pada masyarakat dan aktivitas perekonomian di Jawa Timur?
  1. Apa yang dilakukan pemerintah dan Lapindo Brantas Inc untuk menyelesaikan permasalahan bencana lumpur lapindo?
 TujuanAdapun tujuan dari adanya penulisan karya ilmiah ini, yaitu:
  1. Mengetahui apa yang menjadi penyebab terjadinya bencana lumpur lapindo.
  1. Mengetahui dampak yang diakibatkan oleh bencana lumpur lapindo pada masyarakat dan aktivitas perekonomian di Jawa Timur
  1. Mengetahui tindakan pemerintah dan Lapindo Brantas Inc untuk menyelesaikan permasalahan bencana lumpur lapindo

 PEMBAHASANØ  MATERI
LAPINDO BRANTAS IncLapindo Brantas Inc. pertama didirikan pada tahun 1996, setelah proses kepemilikan sahamnya diambil alih dari perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat, Huffington Corporation, yang saat itu telah menandatangani perjanjian Production Sharing Contract (PSC) dengan Blok Brantas di Jawa Timur untuk jangka waktu 30 tahun.Dari tahun 1991 hingga 1996, LBI (Lapindo Brantas Inc.) melakukan survei seismik dan kegiatan pemboran eksplorasi yang fokus pada pengembangan Lapangan Gas Wunut, yang kemudian mulai berproduksi pada 25 Januari 1999. LBI merupakan perusahaan swasta pertama di Indonesia yang memproduksi gas di Lapangan Wunut. LBI kemudian bergabung dengan PT Energi Mega Persada (EMP) di tahun 2004 sebelum diambil alih oleh Minarak Labuan Co. Ltd. (MLC). Lapindo Brantas, Inc (LBI) bergerak di bidang usaha eksplorasi dan produksi migas di Indonesia yang beroperasi melalui skema Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di blok Brantas, Jawa Timur. LBI melakukan eksplorasi secara komersil di 2 wilayah kerja (WK) di darat dan 3 WK lepas pantai dan saat ini total luas WK Blok Brantas secara keseluruhan adalah 3.042km2. PENYEBAB LUAPAN LUMPUR LAPINDOSebenarnya ada beberapa hal yang diduga sebagai penyebab terjadinya luapan lumpur lapindo, seperti kaitannya dengan gempa Yogyakarta yang berlangsungpada hari yang sama, aspek politik yaitu eksplorasi migas oleh pemerintah,dan  aspek ekonomis yaitu untuk menghemat dana pengeluaran, maka PT Lapindo sengaja tidak memask casing pada sumur BPJ-1.Salah satu dari ketiga perkiraan yang sudah umum diketahui banyak orang tentang penyebab meluapnya lumpur lapindo di Porong Sidoarjo 29 Mei 2006 lalu adalah PT Lapindo Brantas yang waktu itu sedang melakukan kegiatan di dekat lokasi semburan.Kegiatan yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas waktu iu adalah pengeboran sumur Banjar Panji-1 (BPJ-1) pada awal maret 2006, kegiatan tersebut bekerjasama dengan perusahaan kontraktor pengeboran yaitu PT Medici Citran Nusantara.      Dugaan atas meluapnya lumpur tersebut kepada PT Lapindo Brantas adalah kurang telitinya PT Lapindo dalam melakukan pengeboran sumur dan terlalu menyepelekan. Dua hal tersebut sudah tampak ketika rancangan pengeboran akhirnya tidak sesuai dengan yang ada dilapangan. Rancangan pengeboran adalah sumur akan dibor dengan kedalaman 8500 kaki (2590 meter) untuk bisa mencapai batu gamping. Lalu sumur tersebut dipasang casing  yang bervariasi sesuai dengan kedalaman sebelum mencapai batu gamping.      Awalnya, PT Lapindo sudah memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, 20 inchi pada 1195 kaki, 16 inchi pada 2385 kaki dan 13-3/8 inchi pada 3580 kaki. Namun setelah PT Lapindo mengebor lebih dalam lagi, mereka lupa memasang casing.Mereka berencana akan memasang casing lagi setelah mencapai/menyentuh titik batu gamping. Selama pengeboran tersebut, lumpur yang bertekanan tinggi sudah mulai menerobos, akan tetapi PT Lapindo masih bisa mengatasi dengan pompa lumpur dari PT Medici.      Dan setelah kedalam 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. PT Lapindo mengira target sudah tercapai, namun sebenarnya mereka hanya menyentuh titik batu gamping saja. Titik batu gamping itu banyak lubang sehingga mengakibatkan lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur dari bawah sudah habis, lalu PT Lapindo berusaha menarik bor, tetapi gagal, akhirnya bor dipotong dan operasi pengeboran dihentikan serta perangkap BOP (Blow Out Proventer) ditutup. Namun fluida yang bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sehingga fluida tersebut harus mencari jalan lain untuk bisa keluar. Itu lah yang menyebabkan penyemburan tidak hanya terjadi di sekitar sumur melainkan di beberapa tempat. Oleh karena itu terjadilah semburan lumpur lapindo..KRONOLOGIS TERJADINYA BENCANA LUMPUR LAPINDOSemburan lumpur panas itu muncul pertama kalinya pada 29 Mei sekitar pukul 05.00. Semburan ini terjadinya di areal persawahan Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo sekitar 150 meter barat daya sumur Banjar Panji 1 yang dikerjakan oleh Lapindo Brantas Inc.Selama tiga bulan Lapindo Brantas Inc, melakukan pengeboran vertikal untuk mencapai formasi geologi yang disebut Kujung pada kedalaman 10.300 kaki. Sampai semburan lumpur pertama itu, yang dalam dunia perminyakan dan gas disebut blow out, telah dicapai kedalaman 9.297 kaki (sekitar 3,5 kilometer). Kedalaman ini dicapai pukul 13.00 dua hari sebelum blow out. Pada pengeboran di kedalaman tersebut, lumpur berat masuk pada lapisan, disebut loss, yang memungkinkan terjadinya tekanan tinggi dari dalam sumur ke atas atau kick, antisipasinya adalah menarik pipa untuk memasukkan casing yang merupakan pengaman sumur. Ketika penarikan pipa hingga 4.241 kaki, pada 28 Mei, terjadi kick.Penanggulangan ini adalah dengan penyuntikan lumpur ke dalam sumur. Ternyata bor macet pada 3.580 kaki, dan upaya pengamanan lain dengan disuntikan semen. Bahkan pada hari itu dilakukan fish, yakni pemutusan mata bor dari pipa dengan diledakan. Namun kemudian yang terjadi adalah munculnya semburan gas dan lumpur pada subuh esok harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar